Solusi Ketika Mendapati Perpecahan Umat

Bismillaahirrahmaanirrahiiim. Alhamdulillaahi Rabbil'aalamiin. Allaahumma shallii 'ala Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in wa man tabi'ahum bi ihsaanin ila yaumiddiin. wa ba'du.

Saudaraku, semoga Allah memberi taufiq dan hidayah kepada kita semua. Pada kesempatan ini, kami akan menukil sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang sangat agung.

Hadits mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai perpecahan yang melanda umat. Di antaranya adalah hadits iftiraq yang berbunyi.

"Artinya : Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan umat Nasrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan"

Hadits Nabi ini sangat masyhur, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dan dicantumkan oleh para imam dan huffazh dalam kitab-kitab sunan, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya'la Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shahih oleh beberapa ahli ilmu di antaranya ; At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi,As-Suyuthi, Asy-Syathibi dan lainnya. Di samping banyak terdapat jalur sanad bagi hadits ini, secara keseluruhan dapat mencapai derajat hadits shahih.

Dari Abu Najih Irbad bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: "Rasulullah memberikan pengajaran kepada kami pengajaran yang sangat dalam, yang membuat hati ini takut dan meneteskan air mata. Kamipun (para sahabat) berkata: "Wahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan wasiat perpisahan ? Berilah kami wasiat Ya Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda: "Saya wasiatkan kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah, dan selalu taat dan patuh, meskipun yang memerintahkan kamu itu adalah seorang budak habsyi. Barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, oleh sebab itu wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku dan Sunnah Khulafaaur Rasyidin (para khalifah) yang mendapat petunjuk sepeninggalku, pegang teguh Sunnah itu, dan gigitlah dia dengan geraham-geraham, dan hendaklah kalian hati-hati dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah ssesat" [HR. Abu Daud, dan Tirmizi, dan ia (Tirmizi) berkata hadits ini hasan shahih]

Sebagaimana diketahui bahwa kita hidup di zaman yang semakin dekat kiamat, zaman perpecahan umat, bahkan perpecahan yang sangat hebat melanda tubuh umat islam. Tentu, kita semua telah mendapati perpecahan antarumat islam tersebut. Bermunculan aliran-aliran atau paham-paham sesat yang mengatasnamakan ajaran islam, aliran/paham tersebut sebenarnya merupakan "gaya baru" dari aliran/paham menyimpang terdahulu, sebutlah seperti khawarij, qadariyah, jabariyah, tashawuf, dll. Sengaja kami tidak memasukkan "ahmadiyah" dan "syiah rafidhah" karena aliran/paham ini telah dinyatakan keluar dari islam menurut kesepakatan kaum muslimin. [Lihat: http://www.mediasalaf.com/aqidah/fatwa-kafirnya-ahmadiyah/ dan http://haulasyiah.wordpress.com/2007/07/16/pernyataan-para-ulama-islam-tentang-syiah-rafidhah/ ]

Setelah melihat realita perpecahan di tubuh umat islam sendiri, beragamnya paham dan aliran yang semuanya mengatasnamakan islam, tentu sebagian kaum muslimin bertanya-tanya, "paham mana yang benar ?", "paham mana yang harus diikuti ?", dan pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa. Pertanyaan ini sangatlah wajar karena memang aliran/paham tersebut benar-benar membingungkan sebagian kaum muslimin, karena pedoman/dasar mereka semuanya Al-Quran dan Al-Hadits, tidak ada satu pun yang mau mengaku tidak berpegang kepada dua dasar tersebut. Bahkan, ahmadiyah pun mengaku berpedoman pada Al-Quran dan Al-Hadits.

Namun, sebenarnya kita tidak perlu bingung, karena Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah memberikan solusi/jalan keluarnya. Beliau tidak hanya mengabarkan bahwa umat islam pasti berpecah belah, tapi beliau juga memberikan solusi/jalan keluar bagi kita dalam menyikapi perpecahan tersebut, yakni pada kalimat "oleh sebab itu wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku dan Sunnah Khulafaaur Rasyidin (para khalifah) yang mendapat petunjuk sepeninggalku, pegang teguh Sunnah itu, dan gigitlah dia dengan geraham-geraham, dan hendaklah kalian hati-hati dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat".
 
Jadi, solusi yang diberikan oleh Rasulullah shallahu'alaihi wasallam ketika mendapatkan perpecahan dalam tubuh umat adalah: Wajib berpegang teguh kepada sunnah (ajaran) Rasulullah shallahu'alaihi wasallam dan khalifah rasyidin (para shahabat) serta menjauhi perkara baru dalam agama (bid'ah). Maka metode dalam memahami dan mengamalkan Al-Quran dan Al-Hadits wajib sejalan dengan metode Rasulullah shallahu'alaihi wasallam dan khalifah rasyidin (para shabat). Apabila menyimpang dari metode beliau shallallahu'alaihi wasallam dan para shahabat maka pasti tersesat, sebagaimana sesatnya paham jahmiyah, khawarij, qadariyah, jabariyah, tashawuf, dll. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah shallahu'alaihi wasallam ketika beliau menjelaskan tentang "al-jama'ah".

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.” [HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimy (II/241), al-Aajury dalam asy-Asyariah, al-Laalikaaiy dalam as-Sunnah (I/113 no.150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Muawiyah bin Abu Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albany. Lihat Silsilatul Ahaadits Shahihah (no. 203 dan 204).]

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Shahabatku berjalan di atasnya.” [HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dari Shahabat Abdullah bin Amr, dan di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami (no. 5343)]

wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.
walhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin.

Ditulis pada malam Sabtu, ba'da shalat isya, 3 Syawal 1432 H/2 September 2011
Ulak Paceh Jaya, Kec. Lawang Wetan, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
di rumah ayah&ibu.


Rujukan:

1 komentar:

  1. semoga perdamaian umat tetap terus terjaga di negeri kita ini.

    BalasHapus

Silahkan masukkan komentar anda di sini

Recent Posts

Komentar

BANNER

Ulpajaya Rajutan

Ulpajaya Rajutan
Kami membuat rajutan sepatu, tas, peci, pernik bayi, bros, gantungan kunci, dll. Produk rajutan kami ASLI HANDMADE